← Semua buku
★ Unggulan ✍ Sedang berlangsung Detektif

Siapa yang Membunuh Sang Editor

Pemimpin redaksi penerbit itu ditemukan tewas di kantornya yang terkunci — semalam sebelumnya ia berjanji akan "memecat separuh lantai." Pintunya terpalang dari dalam, jendelanya berada di lantai tujuh, dan di atas meja tergeletak secangkir kopi yang baru diminum separuh serta daftar enam nama, satu di antaranya tercoret. Hanya orang dalam yang berada di gedung itu malam itu: sang wakil yang ambisius, seorang penulis yang tersinggung, seorang akuntan yang terlilit utang, penjaga keamanan yang pendiam, mantan istri yang kini menjadi agen sastra, dan seorang pemagang yang "cuma lupa membawa laptopnya." Semua punya motif. Semua punya alibi. Salah satunya adalah kebohongan. Ini adalah whodunit kolaboratif: setiap penulis menambahkan satu petunjuk, satu interogasi, atau satu kejutan — tetapi tak seorang pun boleh menyebut nama pembunuhnya sampai cukup banyak petunjuk tersaji di atas meja. Tambahkan halaman berikutnya dan jalankan penyelidikannya.

1 dari 200 halaman tertulis · Dimulai oleh Sang Mahatinggi
⬇ Unduh (.txt)
👥 Penulis pendamping: Sang Mahatinggi · 1

Kopinya masih hangat ketika mereka mendobrak pintu.

Itulah hal pertama yang dicatat Inspektur Severin saat melangkah masuk ke kantor itu: cangkir di tepi meja, seuntai tipis uap mengepul darinya. Pria yang telah meminum separuh kopi itu tergeletak bersandar di kursinya, kepala mendongak, dan takkan menghabiskan sisanya.

Arkady Lvovich, pemimpin redaksi. Pria yang sama yang, pada rapat kemarin, berjanji akan "memecat separuh lantai sebelum Jumat" — dan tersenyum saat mengatakannya.

"Pintunya terkunci dari dalam," kata penjaga keamanan, tanpa menatap jenazah. "Aku sendiri yang mendobraknya. Kuncinya masih tertancap di lubangnya. Dari dalam."

Severin mengangguk tanpa menjawab. Jendelanya — lantai tujuh, terkunci rapat. Satu kamera di koridor, dan kamera itu, sungguh kebetulan yang nyaman, "sudah mati sejak makan siang."

Di atas meja, di samping cangkir, tergeletak selembar kertas. Daftar enam nama dalam tulisan rapi sang almarhum. Nama paling atas dicoret dengan garis tebal. Lima yang lain menunggu giliran.

Severin mengeluarkan buku catatannya. Menurut penjaga, ada enam orang yang tinggal di gedung itu malam itu. Enam nama di daftar. Ia sudah tak percaya pada kebetulan sejak masa kadetnya.

"Bawa mereka masuk," katanya. "Satu per satu. Dan tak seorang pun boleh meninggalkan gedung."

Ia menatap sekali lagi baris yang tercoret itu lalu menambahkan, pelan, hampir kepada dirinya sendiri:

"Salah satu dari kalian sungguh-sungguh tak ingin berada di daftar ini malam ini."

📖 Masuk (terverifikasi atau Pro) untuk menulis. Membaca terbuka untuk semua orang.
Buat akun gratis Masuk untuk menulis